40. AL MUQITH (Dzat Yang Maha Memberi Makan) Apabila seseorang ingin menjalankan hukum-hukum Allah Ta’ala, maka ujian yang paling berat yang dia hadapi adalah masalah makan. Sehingga kebanyakan orang merasa takut untuk menjalankan hukum-hukum Allah Ta’ala jika nanti tidak bisa makan. Oleh sebab itu Allah Ta’ala berjanji akan memberi (menjamin) makan setiap hamba-hambaNya sebatas mampu untuk beribadah kepadaNya. Karena tidaklah mungkin Allah Ta’ala menciptakan makhluq-makhluqNya tetapi tidak memberi makan kepadanya. Akan tetapi manusia diwajibkan untuk berikhtiyar, karena dengan ikhtiyar itulah manusia bisa mendapatkan amal. Dan dengan ikhtiyar itu pula manusia bisa bersabar dan tidak panjang angan-angan. Allah Ta’ala yang menciptakan manusia dan mewajibkan kepada mereka untuk beribadah kepadaNya. Maka terlebih dahulu Allah Ta’ala menjamin makan bagi setiap hamba-hambaNya sehingga badannya menjadi kuat untuk melakukan ibadah kepadaNya. Dan hal ini telah Allah Ta’ala siapkan dengan Al Lathif-Nya sebelum hamba-hambaNya tercipta. Oleh sebab itu selama kita masih bernyawa (hidup) maka Allah Ta’ala pasti akan memberi makan kepada kita. Bahkan pada saat manusia akan dicabut nyawanya, Malaikat Izra’il akan memanggil Malaikat Mikail dan bertanya : “Wahai Mikail, apakah rizki sifulan ini masih ada?” Kemudian Malaikat Mikail keliling dunia untuk memastikan apakah rizki sifulan masih ada atau sudah habis. Apabila rizki sifulan benar-benar sudah habis, barulah Malaikat Izra’il mencabut nyawanya. Sebetulnya tujuan Allah Ta'ala menjamin makan bukan masalah nikmat atau tidak nikmat, mahal atau tidak mahal. Karena yang memberi kenikmatan makan adalah Allah Ta'ala. Akan tetapi tujuan Allah Ta'ala memberikan makan adalah agar tubuhnya menjadi kuat sehingga kuat pula untuk beribadah kepadaNya. Dengan kata lain yang dimaksud menjamin makan disini adalah segala sesuatu yang bisa membuat manusia bertenaga (kuat) sehingga bisa melakukan ibadah kepadaNya. Hal ini terbukti ada orang-orang yang makan nasi, ada orang-orang yang makan roti, ada orang-orang yang makan sagu dan lain sebagainya. Walaupun pada dasarnya makanan itu sederhana, tetapi jika Allah Ta'ala memberi kenikmatan, maka kitapun akan merasa nikmat memakannya. Karena kenikmatan yang memberi adalah Allah Ta'ala dan tidak harus mahal. Ada orang yang sekali makan hanya menghabiskan uang seribu dan ada orang yang sekali makan menghabiskan uang seratus ribu. Akan tetapi mereka sama-sama kenyang dan tenaganya-pun juga sama. Bukan berarti orang yang makan mahal atau enak tenaganya lebih dibanding yang sederhana. Tujuan Allah Ta'ala disini adalah agar manusia tidak berlebih-lebihan didalam makan dan tidak perlu yang mahal-mahal. Sehingga masih ada kelebihan untuk beramal sholeh. Jika kita selalu makan yang mahal-mahal, maka tidak ada kelebihan untuk beramal sholeh. Manusia selalu berfikir untuk dipenuhi segala kebutuhannya, yaitu dengan menuntut kewajiban-kewajiban Allah, tetapi tidak mau berfikir untuk menunaikan kewajiban-kewajibannya. Padahal haknya sudah diambil. Dan yang paling fatal adalah banyak sekali manusia yang tidak pernah merasa bahwa apapun yang dapat ia makan adalah karena pemberian Allah. dia selalu merasa bahwa apapun yang dapat ia makan adalah karena hasil usahanya sendiri. Oleh sebab itu setiap makanan yang kita makan tidak berdampak kepada kekuatan tubuh untuk melakukan ketaatan kepada Allah. Dengan kata lain fisik kita tidak termanfaatkan untuk kepentingan akhirat melainkan hanya untuk kepentingan duniawi. Padahal seharusnya kita berfikir apa kewajiban yang harus kita kerjakan, setelah kita menerima pemberian-pemberian Allah tersebut. Bisa kita bayangkan andaikata tidak ada jaminan dari Allah masalah makan, niscaya akan rusaklah bumi ini. Akan tetapi kenyatannya kita selalu susah masalah makan, padahal yang Allah berikan melebihi dari masalah makan. inilah yang selalu membuat kita gelisah dan khawatir. seperti kendaraan, dan lain2. hal ini dikarenakan yang kita cari melebihi dari kebutuhan makan. oleh sebab itu kita bisa melakukan ibadah2 karena diberi makan oleh Allah. malasnya beribadah karena masih menuntut pemberian2 yang selain makan. Sebetulnya kalau hanya sekedar untuk makan, bekerja atau tidak pasti akan makan. Karena semua telah Allah siapkan dengan Al LathifNya dan kapan waktu kedatangannya juga telah ditentukan dengan Ar RasyidNya. Bahkan beriman atau kafir semua hamba pasti akan diberi makan. Sedangkan masalah bekerja (berupaya) hanya untuk memperoleh amal. Dalam hidup ini ada beberapa orang yang tidak mau menghiraukan peringatan-peringatan dari Allah, sehingga mereka diberikan kemelaratan agar memohon kepada Allah dengan merendahkan diri. Surat Al An'aam (6) : 42 42. Dan sesungguhnya Kami telah mengutus (rasul-rasul) kepada umat-umat yang sebelum kamu, kemudian Kami siksa mereka dengan (menimpakan) kesengsaraan dan kemelaratan, supaya mereka memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri. Surat An Nahl (16) : 94 94. Dan janganlah kamu jadikan sumpah-sumpahmu sebagai alat penipu di antaramu, yang menyebabkan tergelincir kaki (mu) sesudah kokoh tegaknya, dan kamu rasakan kemelaratan (di dunia) karena kamu menghalangi (manusia) dari jalan Allah; dan bagimu azab yang besar. A. Sisi Tafakkurnya Seberapa besar rasa khawatir dan gelisah yang ada didalam diri kita tentang jaminan rizki dari Allah Ta'ala berupa makan? Dan seberapa besar rasa ketawakkalan kita atas jaminan rizki dari Allah Ta'ala berupa makan? B. Contoh Do’a Dari Sisi Keimanan Ya Allah berikanlah kepada kami rizki yang halal dan toyyib (baik), sehingga kami dapat bertenaga untuk melakukan ketaqwaan kepada-Mu. C. Sikap Orang Beriman Orang-orang yang beriman sangat yakin bahwa Allah Ta'ala telah menjamin makan untuk dirinya selama dia masih hidup dimuka bumi, sehingga dia tidak pernah merasa ragu atau pusing. Dan ketika dia dapat makan, maka dia sangat yakin bahwa apapun yang dapat dia makan itu adalah pemberian Allah Ta'ala. D. Sikap Orang Bertaqwa Orang-orang yang bertaqwa apabila dia telah diberi makan dan diberi tenaga oleh Allah Ta'ala, maka dia akan memanfaatkannya untuk beribadah dan beramal sholeh. Dengan kata lain orang-orang yang bertaqwa akan berusaha untuk dapat menggunakan tenaga yang telah Allah Ta'ala berikan untuk melakukan ketaqwaan-ketaqwaan kepada-Nya. Karena dia takut jika tidak melakukan ketaqwaan hisabnya akan menjadi berat nanti diakhirat. Akan tetapi bagi orang-orang yang tidak beriman, dia tidak menyadari bahwa apapun yang dia makan adalah pemberian Allah Ta'ala. Mereka merasa atas kemampuan dan kepintarannya sendiri didalam bekerja sehingga bisa makan. Pada dasarnya Allah Ta'ala memberi makan adalah untuk menguatkan tubuh (bertenaga), sehingga kuat pula untuk melakukan ketaqwaan. Akan tetapi bagi orang-orang yang memperturutkan hawa nafsunya, makan dijadikan sebagai tujuan utama. Sehingga mereka tidak memperdulikan apakah yang dimakannya halal atau haram. Yang mereka pikirkan adalah bagaimana bisa makan enak dan cukup. Padahal bagi orang-orang yang makan barang haram, baik haram barangnya maupun haram cara memperolehnya, maka akan terasa berat untuk menjalankan ketaqwaan. Bahkan Rasulullah SAW bersabda : “Setiap tubuh yang tumbuh dari (makanan) yang haram, maka api neraka lebih utama membakarnya”. (HR. Ath-Thabrani) E. Contoh Do’a Dari Sisi Ketaqwaan Ya Allah, tolonglah kami agar kiranya Engkau selalu mengingatkan kami untuk mempergunakan tenaga kami untuk mengikuti perintah-Mu dan menjauhi larangan-Mu. F. Sikap Orang Bertawakkal Orang-orang yang bertawakkal betul-betul berserah diri kepada Allah Ta'ala dalam hal makan. Karena dia yakin Allah Ta'ala pasti memberinya makan selama dia masih hidup didunia. G. Sikap Orang Mukhlis Dia akan menerima dengan ikhlas apapun makanan yang diberikan Allah Ta'ala kepadanya. Dia tidak mempermasalahkan apakah makanan itu enak atau tidak enak. Yang penting dia bisa bertenaga sehingga dapat dia gunakan untuk beramal ibadah dan beramal sholeh. H. Sikap orang-orang yang telah meneladani Asma’ Al Muqith Apabila sudah bisa menjadi kholifah, maka ia tidak pernah ragu dengan janji Allah Ta’ala bahwa setiap manusia pasti akan diberi makan. Karena ia yakin bahwa sebelum menuntut kewajiban terlebih dahulu Allah Ta'ala akan menunaikan dahulu hakNya. Kemudian terhadap sesama manusia, ia selalu berusaha untuk memberikan sebagian hartanya kepada orang-orang faqir miskin berupa makanan. I. Contoh do’a bagi yang ingin meneladani Asma’ Al Muqith Ya Allah, jadikanlah kami perantara-perantaraMu untuk memberikan sebagian dari harta kami kepada orang-orang yang membutuhkan, berupa makanan. Sehingga tubuh mereka menjadi kuat untuk menjalankan ketaqwaan kepada-Mu. Agar manusia dapat melihat bahwa sesungguhnya rizki yang mereka terima itu semuanya adalah atas jaminan-Mu.